Karakteristik Pendidikan Pesantren
Pesantren merupakan salah satu pilar
pendidikan tradisional yang sejarahnya telah mengakar selama
berabad-abad. Nurcholis Madjid menyebutkan, bahwa pesantren mengandung
makna keislaman sekaligus keaslian (indigenous) Indonesia.
Lembaga pendidikan pesantren biasanya terdapat lima elemen dasar yang
tidak terpisah-pisahkan, yaitu: pondok, masjid, santri, pengajaran
kitab-kitab klasik dan kyai.
Pesantren adalah sebuah kehidupan yang unik, sebagaimana Abdurrahman
Wahid mengatakan bahwa pesantren sebagai sebuah subkultur masyarakat
yang memiliki karakter, watak dan tradisi tersendiri yang berbeda dengan
masyarakat pada umumnya.
Pesantren bisa disebut sebagai sebuah subkultur karena memiliki keunikan
sendiri dalam aspek-aspek kehidupannya seperti; cara hidup yang dianut,
pandangan hidup dan tata nilai yang diikuti, serta hierarki kekuasaan intern
tersendiri yang ditaati sepenuhnya. Ketiga keunikan ini setidaknya
dirasa cukup untuk mengenakan predikat subkultur pada kehidupan itu.
Subkultur tersebut lahir dan berkembang seiring dengan derap langkah
perubahan-perubahan yang ada dalam masyarakat global.
Perubahan-perubahan yang terus bergulir itu, cepat atau lambat, pasti
akan mengimbas pada komunitas pesantren sebagai bagian dari masyarakat
dunia.
Bila ditilik dari sejarah kehadiran pesantren, menarik kiranya untuk
disimak bahwa terbentuknya pesantren ternyata memiliki keunikan
tersendiri. Kehadiran pesantren disebut unik karenya ada dua alasan
berikut;
Pertama, pesantren dilahirkan untuk memberikan respon terhadap
situasi dan kondisi suatu masyarakat yang telah dihadapkan pada
runtuhnya sendi-sendi moral,
melalui transformasi nilai yang ditawarkan (amar ma’ruf nahi munkar).
Kehadirannya dengan demikian bisa disebut sebagai agen perubahan sosial (agent of social change), yang selalu melakukan kerja-kerja pembebasan pada masyarakatnya dari segala keburukan moral, penindasan politik, pemiskinan ilmu pengetahuan, dan bahkan dari pemiskinan ekonomi.
Kedua, salah satu misi awal didirikannya pesantren adalah
menyebarluaskan informasi ajaran tentang universalitas Islam ke seluruh
pelosok nusantara yang berwatak pluralis, baik dari dimensi
kepercayaannya, budaya maupun kondisi sosial
masyarakat. Melalui medium pendidikan yang dikembangkan oleh para wali
dalam bentuk pesantren ini, ajaran Islam lebih cepat membumi di
Indonesia.
Untuk mengetahui karakteristik pendidikan pesantren, akan dicoba
diuraikan beberapa hal yang berkaitan dengan kehidupan pada pesantren.
Tradisi dan Pola Hubungan Pergaulan di Pesantren
Dalam dunia pesantren terdapat lima unsur pokok yang antara satu dan lainnya saling
terkait dan yang menjadi titik tolak adalah santri yang kemudian
membentuk sebuah tradisi yang unik yang berbeda dengan tatanan yang ada
di masyarakat pada umumnya.
Kiyai sebagai komponen yang utama dalam pesantren adalah sosok figur
orang yang memiliki kelebihan dalam pengetahuan agama, kyai adalah
sebagai pemimpin dan sekaligus pemilik pesantren, kedudukan kyai adalah
sumber mutlak dari kekuasaan dan kewenangan (power and authority)
dalam kehidupan dan lingkungan pesantren, hal ini menyebabkan tidak ada
seorangpun santri atau orang lain yang dapat melawan kekuasaan kyai,
kecuali kiyai yang lebih besar pengaruhnya.
Kurikulum Pesantren
Kurikulum merupakan salah satu komponen yang memiliki peran penting
dalam sebuah sistem pendidikan, tak terkecuali pendidikan pada
pesantren. Sebab dalam kurikulum tidak hanya dirumuskan tentang tujuan
yang harus dicapai sehingga memperjelas arah pendidikan sebuah lembaga,
akan tetapi juga memberikan pemahaman tentang pengalaman belajar yang
harus dimiliki setiap siswa atau santri dalam pondok pesantren.
Nurcholis Madjid mengatakan bahwa istilah kurikulum tidak terkenal di
dunia pesantren masa pra-kemerdekaan, walaupun sebenarnya materi
pendidikan sudah ada di dalam pesantren, terutama pada praktek
pengajaran bimbingan rohani dan latihan kecakapan hidup dalam kehidupan
di pesantren. Oleh karena itu, kebanyakan pesantren tidak merumuskan
dasar dan tujuan pesantren secara eksplisit atau mengimplementasikannya
dalam bentuk kurikulum.
Hal ini bukan berarti bahwa pendidikan pesantren itu berlangsung tanpa
arah tujuan yang dituju, hanya saja tujuan itu tidak dirumuskan secara
sistematis dan dinyatakan secara eksplisit. Hal ini ada hubungannya
dengan sifat kesederhanaan yang sesuai mendorong berdirinya dimana kyai
mengajar dan santri belajar adalah semata-mata untuk ibadah dan tidak
pernah dikaitkan dengan orientasi tertentu dalam lapangan penghidupan
atau tingkat dan jabatan tertentu dalam hierarki sosial atau birokrasi
kepegawaian.
Berkaitan dengan tujuan pendidikan pesantren, menurut Zamakhsyari
Dhofier, tujuan pendidikan pesantren adalah untuk meninggikan moral,
melatih dan mempertinggi semangat, menghargai nilai-nilai spiritual dan
kemanusiaan, mengajarkan sikap dan tingkah laku yang jujur dan bermoral
dan mempersiapkan para santri untuk hidup sederhana dan bersih hati.
No comments:
Post a Comment