Monday, March 17, 2014

Negara dengan Kualitas Pendidikan Terbaik di dunia

Tahukah Anda negara mana yang kualitas pendidikannya menduduki peringkat pertama di dunia?
Finlandia. Negara dengan ibukota Helsinki (tempat ditandatanganinya perjanjian damai antara RI dengan GAM) ini memang begitu luar biasa. Peringkat 1 dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil survei internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Tes tersebut dikenal dengan nama PISA (Programme for International Student Assesment) mengukur kemampuan siswa di bidang Sains, Membaca, dan juga Matematika.
Finlandia
Finlandia
Hebatnya, Finlandia bukan hanya unggul secara akademis tapi juga menunjukkan unggul dalam pendidikan anak-anak lemah mental.
Ringkasnya, Finlandia berhasil membuat semua siswanya cerdas. Lantas apa kuncinya sehingga Finlandia menjadi Top No 1 dunia?
Dalam masalah anggaran pendidikan Finlandia memang sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara di Eropa tapi masih kalah dengan beberapa negara lainnya. Finlandia tidaklah menggenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar, memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau memborbardir siswa dengan berbagai tes. Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka justru lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam perminggu. Bandingkan dengan Korea, ranking kedua setelah Finlandia, yang siswanya menghabiskan 50 jam perminggu.
Apa gerangan kuncinya?
Ternyata kuncinya terletak pada kualitas guru. Di Finlandia hanya ada guru-guru dengan kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru sendiri adalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklah fantastis. Lulusan sekolah menengah terbaik biasanya justru mendaftar untuk dapat masuk di sekolah-sekolah pendidikan, dan hanya 1 dari 7 pelamar yang bisa diterima. Persaingannya lebih ketat daripada masuk ke fakultas hukum atau kedokteran!
Jika negara-negara lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang sangat penting bagi kualitas pendidikan, Finlandia justru percaya bahwa ujian dan testing itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa. Terlalu banyak testing membuat kita cenderung mengajarkan kepada siswa untuk semata lolos dari ujian, ungkap seorang guru di Finlandia.
Pada usia 18 th siswa mengambil ujian untuk mengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi dan dua pertiga lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi.
Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK!
Ini membantu siswa belajar bertanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri, kata Sundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso, Finlandia.
42-22243084
Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel. Adanya terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan, dan mengakibatkan suasana belajar menjadi tidak menyenangkan.
Kelompok siswa yang lambat mendapat dukungan intensif. Hal ini juga yang membuat Finlandia sukses.
Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-sekolah di Finlandia sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik dan yang buruk dan merupakan yang terbaik menurut OECD. Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai kesempatan untuk memperbaiki. Seorang guru yang bertugas menangani masalah belajar dan prilaku siswa membuat program individual bagi setiap siswa dengan penekanan tujuan-tujuan yang harus dicapai, umpamanya: Pertama, masuk kelas; kemudian datang tepat waktu; berikutnya, bawa buku, dlsb. Kalau mendapat PR siswa bahkan tidak perlu untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka berusaha.
Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut mereka, jika kita mengatakan “Kamu salah” pada siswa, maka hal tersebut akan membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya.
Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap dirinya masing-masing. Ranking hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya.

 

Sunday, March 16, 2014

Pengertian Strategi Pembelajaran

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), strategi adalah rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus. Syaiful Bahri Djamarah, mengartikan strategi adalah suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan.
Strategi digunakan untuk memperoleh kesuksesan atau keberhasilan dalam mencapai tujuan. Strategi berbeda dengan metode, strategi menunjuk pada sebuah perencanaan untuk mencapai sesuatu, sedangkan metode adalah cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan strategi. Dengan kata lain, strategi adalah a plan of operation achieving something; Sedangkan metode adalah a way in achieving something.
Beberapa ahli pendidikan, memberikan pengertian strategi pembelajaran dengan beragam, yaitu:
Dewi Salma Prawiradilaga. Strategi pembelajaran adalah upaya yang dilakukan oleh perancang dalam menentukan tehnik penyampaian pesan, penentuan metode, dan media, alur isi pelajaran, serta interaksi antara pengajar dan peserta didik.
Wina Sanjaya. Strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu.
Made Wena. Kata strategi berarti cara dan seni menggunakan sumber daya untuk mencapai tujuan tertentu. Pembelajaran berarti upaya membelajarkan peserta didik. Dengan demikian, strategi pembelajaran berarti cara dan seni untuk menggunakan semua sumber bel ajar dalam upaya membelajarkan peserta didik.
Mansur Muslih. Strategi pembelajaran merupakan cara pandang dan pola pikir guru dalam mengajar.
Dari beberapa pengertian strategi pembelajaran, disimpulkan bahwa strategi pembelajaran merupakan pendekatan dalam mengelola kegiatan, dengan mengintegrasikan urutan kegiatan, peralatan dan bahan serta waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran, untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan secara aktif dan efisien.
Strategi pembelajaran diklasifikasikan menjadi enam, yaitu:
Strategi pembelajaran langsung
Strategi pembelajaran langsung merupakan pembelajaran yang banyak diarahkan oleh guru. Bahan pelajaran disajikan dalam bentuk jadi dan siswa dituntut untuk menguasai bahan tersebut. pembelajaran langsung biasanya bersifat deduktif.
Strategi pembelajaran tak langsung
Strategi ini sering disebut inkuiri, induktif, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan penemuan. Pembelajaran berpusat pada peserta didik, guru hanya sebagai fasilitator, dan pengelola lingkungan belajar, peserta didik diberi kesempatan untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran.
Strategi pembelajaran interaktif
Pembelajaran ini menekankan pada diskusi dan sharing diantara peserta didik. Diskusi dan sharing memberi kesempatan peserta didik untuk bereaksi terhadap gagasan, pengalaman, pendekatan, pengetahuan guru atau teman sebaya serta untuk membangun cara berfikir dan merasakan.
Strategi pembelajaran empiric (experiential)
Pembelajaran empirik berorientasi pada kegiatan induktif, berpusat pada peserta didik, dan berbasis aktivitas.
Strategi pembelajaran mandiri
Strategi pembelajaran mandiri merupakan strategi pembelajaran yang bertujuan untuk membangun inisiatif individu, kemandirian, dan peningkatan diri.

 

Karakteristik Pendidikan Pesantren


Pesantren merupakan salah satu pilar pendidikan tradisional yang sejarahnya telah mengakar selama berabad-abad. Nurcholis Madjid menyebutkan, bahwa pesantren mengandung makna keislaman sekaligus keaslian (indigenous) Indonesia. Lembaga pendidikan pesantren biasanya terdapat lima elemen dasar yang tidak terpisah-pisahkan, yaitu: pondok, masjid, santri, pengajaran kitab-kitab klasik dan kyai.
Pesantren adalah sebuah kehidupan yang unik, sebagaimana Abdurrahman Wahid mengatakan bahwa pesantren sebagai sebuah subkultur masyarakat yang memiliki karakter, watak dan tradisi tersendiri yang berbeda dengan masyarakat pada umumnya.
Pesantren bisa disebut sebagai sebuah subkultur karena memiliki keunikan sendiri dalam aspek-aspek kehidupannya seperti; cara hidup yang dianut, pandangan hidup dan tata nilai yang diikuti, serta hierarki kekuasaan intern tersendiri yang ditaati sepenuhnya. Ketiga keunikan ini setidaknya dirasa cukup untuk mengenakan predikat subkultur pada kehidupan itu.
Subkultur tersebut lahir dan berkembang seiring dengan derap langkah perubahan-perubahan yang ada dalam masyarakat global. Perubahan-perubahan yang terus bergulir itu, cepat atau lambat, pasti akan mengimbas pada komunitas pesantren sebagai bagian dari masyarakat dunia.
Bila ditilik dari sejarah kehadiran pesantren, menarik kiranya untuk disimak bahwa terbentuknya pesantren ternyata memiliki keunikan tersendiri. Kehadiran pesantren disebut unik karenya ada dua alasan berikut;
Pertama, pesantren dilahirkan untuk memberikan respon terhadap situasi dan kondisi suatu masyarakat yang telah dihadapkan pada runtuhnya sendi-sendi moral, melalui transformasi nilai yang ditawarkan (amar ma’ruf nahi munkar). Kehadirannya dengan demikian bisa disebut sebagai agen perubahan sosial (agent of social change), yang selalu melakukan kerja-kerja pembebasan pada masyarakatnya dari segala keburukan moral, penindasan politik, pemiskinan ilmu pengetahuan, dan bahkan dari pemiskinan ekonomi.
Kedua, salah satu misi awal didirikannya pesantren adalah menyebarluaskan informasi ajaran tentang universalitas Islam ke seluruh pelosok nusantara yang berwatak pluralis, baik dari dimensi kepercayaannya, budaya maupun kondisi sosial masyarakat. Melalui medium pendidikan yang dikembangkan oleh para wali dalam bentuk pesantren ini, ajaran Islam lebih cepat membumi di Indonesia.
Untuk mengetahui karakteristik pendidikan pesantren, akan dicoba diuraikan beberapa hal yang berkaitan dengan kehidupan pada pesantren.
Tradisi dan Pola Hubungan Pergaulan di Pesantren
Dalam dunia pesantren terdapat lima unsur pokok yang antara satu dan lainnya saling terkait dan yang menjadi titik tolak adalah santri yang kemudian membentuk sebuah tradisi yang unik yang berbeda dengan tatanan yang ada di masyarakat pada umumnya.
Kiyai sebagai komponen yang utama dalam pesantren adalah sosok figur orang yang memiliki kelebihan dalam pengetahuan agama, kyai adalah sebagai pemimpin dan sekaligus pemilik pesantren, kedudukan kyai adalah sumber mutlak dari kekuasaan dan kewenangan (power and authority) dalam kehidupan dan lingkungan pesantren, hal ini menyebabkan tidak ada seorangpun santri atau orang lain yang dapat melawan kekuasaan kyai, kecuali kiyai yang lebih besar pengaruhnya.
Kurikulum Pesantren
Kurikulum merupakan salah satu komponen yang memiliki peran penting dalam sebuah sistem pendidikan, tak terkecuali pendidikan pada pesantren. Sebab dalam kurikulum tidak hanya dirumuskan tentang tujuan yang harus dicapai sehingga memperjelas arah pendidikan sebuah lembaga, akan tetapi juga memberikan pemahaman tentang pengalaman belajar yang harus dimiliki setiap siswa atau santri dalam pondok pesantren.
Nurcholis Madjid mengatakan bahwa istilah kurikulum tidak terkenal di dunia pesantren masa pra-kemerdekaan, walaupun sebenarnya materi pendidikan sudah ada di dalam pesantren, terutama pada praktek pengajaran bimbingan rohani dan latihan kecakapan hidup dalam kehidupan di pesantren. Oleh karena itu, kebanyakan pesantren tidak merumuskan dasar dan tujuan pesantren secara eksplisit atau mengimplementasikannya dalam bentuk kurikulum.
Hal ini bukan berarti bahwa pendidikan pesantren itu berlangsung tanpa arah tujuan yang dituju, hanya saja tujuan itu tidak dirumuskan secara sistematis dan dinyatakan secara eksplisit. Hal ini ada hubungannya dengan sifat kesederhanaan yang sesuai mendorong berdirinya dimana kyai mengajar dan santri belajar adalah semata-mata untuk ibadah dan tidak pernah dikaitkan dengan orientasi tertentu dalam lapangan penghidupan atau tingkat dan jabatan tertentu dalam hierarki sosial atau birokrasi kepegawaian.
Berkaitan dengan tujuan pendidikan pesantren, menurut Zamakhsyari Dhofier, tujuan pendidikan pesantren adalah untuk meninggikan moral, melatih dan mempertinggi semangat, menghargai nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan, mengajarkan sikap dan tingkah laku yang jujur dan bermoral dan mempersiapkan para santri untuk hidup sederhana dan bersih hati.

 

Pengaruh Internet Terhadap Dunia Literasi


Judul: The Shallows; Internet Mendangkalkan Cara Berpikir Kita?
Penulis: Nicholas Carr
Penerjemah: Rudi Atmoko
Penerbit: Kaifa
Cetakan: I, Juli 2011
Tebal: 279 hlm.

The Shallows secara harfiah menyiratkan orang-orang yang cara berpikirnya menjadi dangkal setelah terlalu dimanjakan oleh internet. Kalangan ini lalu dicirikan sebagai orang yang tak sabaran, yang tak tahan lama-lama membaca buku tebal atau artikel panjang. Yang lama dan yang bertele-tele sudah tidak mendapat tempat lagi. Begitu komentar Ninok Leksono, rektor Universitas Multimedia Nusantara, atas buku ini.
 
Nicholas Carr, penulis buku ini merasakan beberapa tahun merasa seseorang, atau sesuatu, mengutak-atik otak dan memetakan kembali sirkuit saraf, serta memprogram ulang memorinya. Pikirannya tidak hilang namun berubah. Cara berpikirnya tidak seperti dulu lagi. Dia merasakan terutama saat membaca. Dia bercerita kalau dulu dia begitu mudah tenggelam ke dalam buku atau artikel yang panjang. Pikirannya akan hanyut ke dalam seluk-beluk cerita atau pendapat, dan dia biasa menghabiskan berjam-jam untuk membolak-balik lembaran prosa. Kini, tidak demikian. Konsentrasinya mulai hilang setelah satu atau dua halaman. Dia mulai gelisah, kehilangan fokus, dan mulai mencari-cari aktivitas lain.
 
Tak lain semua itu disebabkan Internet, ujar Carr. Internet memang menjadi media serbaguna, saluran bagi sebagian besar informasi yang mengalir melalui mata dan telinga ke pikiran kita. Anugerah tersebut memang benar. Namun ada harga yang harus dibayar. Internet mengikis kemampuan kita berkonsentrasi dan merenung.
 
Saat kita bermain-main internet selama beberapa jam, kita merasa pikiran kita begitu gembira, kita merasa seperti lebih pintar. Perasaan ini begitu memabukkan sehingga bisa membuat kita tak memedulikan dampak kognitif yang lebih dalam dari Internet.
 
Carr mengisahkan bahwa selama lima abad terakhir, semenjak mesin cetak Gutenberg membuat membaca buku menjadi sebuah keasyikan umum, pikiran linear dan sastra telah menjadi inti dari seni, ilmu, dan masyarakat. Dengan lentur dan lembut, pikiran semacam ini telah menjadi pikiran imajinatif di Masa Renaisans, pikiran rasional di Masa Pencerahan, pikiran inventif di Masa Revolusi Industri, dan pikiran memberontak di Masa Modernisme. Tidak lama lagi pikiran linear mungkin akan menjadi pikiran yang ketinggalan zaman.
 
Otak menuntut untuk diberi makan seperti yang dilakukan Internet—dan semakin banyak otak diberi makan, semakin lapar dia. Bahkan ketika kita jauh dari komputer, kita rindu sekali untuk memeriksa e-mail, mengklik link, dan googling. Kita ingin terhubung. Seperti halnya Microsoft Word telah mengubah kita menjadi pengolah kata yang memiliki daging dan darah.
 
Uskup Zaman Pertengahan bernama Isaac, dari Suriah, menjelaskan bagaimana, setiap kali dia membaca, “bagaikan di alam mimpi, saya memasuki kondisi saat indra dan pikiran saya menyatu. Lalu, seiring semakin lamanya keheningan ini kekacauan ingatan di dalam hati saya lenyap, gelombang kegembiraan yang terus-menerus bergolak dikirimkan kepada saya oleh pikiran dalam, yang di luar dugaan tiba-tiba hadir untuk membahagiakan hati saya.” Membaca buku adalah sebuah tindakan perenungan, namun tidak melibatkan pengosongan pikiran.
 
Kemajuan teknologi buku mengubah pengalaman personal membaca dan menulis. Kemajuan ini juga memiliki dampak sosial. Dengan cara yang tak kentara maupun yang mencolok mata, budaya yang lebih luas mulai terbentuk dari praktik membaca buku tanpa bersuara. Hakikat pendidikan dan keilmuan berubah, saat universitas mulai menekankan membaca secara pribadi sebagai pelengkap penting dalam ceramah di kelas.
Saat nenek moyang kita menenggelamkan pikiran mereka secara disiplin untuk mengikuti sebaris pendapat atau cerita melalui rangkaian halaman cetak, mereka menjadi lebih kontemplatif, reflektif, dan imajinatif. Heningnya membaca secara mendalam menjadi bagian dari pikiran.
 
Buku-buku yang dianggap paling berpengaruh dari abad kesembilan belas adalah On the Origin of Species karya Darwin. Sedang di abad kedua puluh, etika sastra mengalir melalui buku-buku yang sangat beragam seperti Relativity karya Einstein, General Theory of Employment, Interest and Money karya Keynes, Structure of Scientific Revolutions karya Thomas Khun, dan Silent Spring karya Rachel Carson. Semua prestasi intelektual penting ini takkan mungkin terwujud tanpa adanya perubahan dalam aktivitas membaca dan menulis—dan memahami dan berpikir—yang didorong oleh reproduksi efisien atas bentuk tulisan pada halaman cetak yang panjang. Semua karya yang disebut di atas adalah hasil deep reading (membaca secara mendalam). Bisakah jaman “Internet” ini menghasilkan karya-karya semacam itu?
 
Buku ini layak dibaca untuk mengetahui dampak Internet atas cara berpikir kita dan mewaspadai agar kita tidak dikendalikan oleh Internet, melainkan sebaliknya, mengendalikannya.

Ajarkan Anak-anak Kita seperti Kisah Lukman al Hakim

KEMEROSOTAN ahklak nampaknya semakin merajarela dalam kehidupan sosial masyarakat Muslim hari ini, terutama di kalangan remaja. Pada mulanya kemerosotan ahklak ini hanya terjadi pada remaja-remaja yang tidak tersentuh dengan dunia pendidikan. Pada tahun  berikutnya dekandensi ahklak sudah merasuki remaja-remaja terpelajar.
Hal ini bisa dilihat dari pergaulan mereka sehari-hari. Mulai dari pergaulan bebas, mabuk-mabukan, berjudi, berzina, berpacaran, dan lain sebagainya. Kemorosotan ahklak kaum remaja semakin terlihat dengan banyaknya media-media yang mengekspos berbagai kasus negatif yang mereka lakukan.
Umumnya perbuatan buruk seseorang malu mengulangi. Dalam hal ini, seharusnya para remaja malu dengan kasus-kasus yang terkuak ke mata publik. Sekaligus timbul rasa penyesalan dan bercita-cita untuk tidak mengulangi lagi.
Tapi realitanya dengan benyaknya kasus yang terungkap, semakin semangat para remaja untuk melakukan hal-hal kejahatan. Naas!
Akibatnya sudah banyak dari remaja-remaja terpelajar yang kehilangan jati dirinya sebagai orang terdidik yang seharusnya berahklak terpuji.  Padahal ahklak inilah yang menjadi pembeda antara remaja terpelajar dengan remaja liar (baca: tidak terdidik).
Setelah terungkap kasus-kasus yang mereka lakukan, beragam kutukan pun dilemparkan atas mereka oleh berbagai pihak. Hal ini dilakukan untuk memberi arahan yang bahwa perbuatan itu tidak baik, bertentangan dengan norma agama dan sosial masyarakat. Sangat disayangkan pada hari berikutnya mereka kembali melakukan kejahatan yang sama.
Sebagai remaja terpelajar tentu bisa membedakan antara kejahatan dengan kebaikan. Sesudah melakukan kejahatan dan mendapat beragam kutukan, mereka pasti tidak akan melakukannya lagi. Mereka pasti merasa malu ketika kasus-kasus negatif terpampang ke mata publik. Namun kebanyakan remaja sekarang sama sekali tidak sadar.
Kelakuan mereka yang tak kunjung sadar itu terkadang menimbulkan beragam pertanyaan. Apakah remaja-remaja seperti itu hanya hadir sekolah untuk mengisi absensi kehadiran saja? Atau sekedar menampakan diri mereka ke mata masyarakat bahwa mereka pelajar? Ternyata tidak, kebanyakan dari mereka orang serius dalam belajar dan aktif dalam organisasi.
Sebagian orang menganggap kelakuan bejat mereka lahir dari diri mereka sendiri. Padahal jika diteliti ahklak remaja semacam ini terindikasi oleh pendidikan balianya. Karena pendidikan yang diberikan sejak kecil akan berpengaruh besar dalam pembentukan remaja seseorang.
Buruknya ahklak remaja sekarang berefek dari didikan balinya. Karena orangtua sekarang lebih memilih untuk memberikan pendidikan umum kepada anak-anaknya ketimbang pendidikan agama.
Yang kita saksikan, sejak lahir,  ilmu pertama kali yang terima anak-anak di lingkungan kita adalah cara main gadget. HP, laptop, main game, lalu cara berhitung, berbahasa Inggris, dan lain sebagainya. Karenanya jangan heran, saat ini anak-anak balita begitu lihat memainkan alat-alat komunikasi ini.
Apakah ini terlarang? Tentu tidak itu masalahnya.
Cara mendidik para orangtua zaman sekarang ini tidak seperti para orangtua zaman dahulu, di mana ketika anak lahir, sudah jauh hari ia dikenalkan dengan hakekat Tuhannya.
Para orangtua mengenalkan mereka agama dengan harapankelak akan membuatnya tidak salah arah.  
Bedanya, kebanyakan orangtua zaman sekarang dalam mendidik anak sudah meniru cara Barat. Sehingga tidak heran jika pada saat remaja, anak-anak mereka berkelakuan seperti remaja-remaja Barat.  
Sebagai ummat Islam pendidikan pertama yang harus diberikan kepada anak-anaknya adalah mengenalkan Allah سبحانه و تعالى  (Ilmu Tauhid). Ketika si anak sudah mengenal Allah, para orangtua yang bijak biasanya akan mengajarkan mereka cara-cara beribadat yang benar (Ilmu Fiqih). Selanjutnya diajarkan cara menjaga ibadat tersebut agar tidak sirna (Tasauf).
Jika ketiga pendidikan ini sudah ada pada diri si anak, ketika beranjak masa remaja anak-anak kita akan menjadi pribadi yang kuat. Baik baik budi pekertinya, lembut tutur katanya. Karena ketiga pendidikan di atas sudah merepresentasi bagaimana cara berintereaksi dengan Allah سبحانه و تعالى dan cara berintereaksi dengan manusia.
Pendidikan anak cara al-Quran
Dalam al-Qur’an sudah tertera cara mendidik anak serta ilmu apa pertama kali yang harus ditanamkan oleh orangtua. Banyak kisah-kisah para pendahulu kita yang sukses mendidik anak dengan metode Alquran. Sebut saja Lukmanul Hakim. Lalu pelajaran apa saja yang beliau berikan kepada anaknya?
Pertama, persoalan aqidah. Sebagaimana firman Allah,” Wahai anak ku jangan sekali-kali engkau sekutukan Allah” (QS: Al-Lukman:13).
Kedua, rasa hormat kepada orangtua. Sebagai mana firman Allah;
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
” Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapakya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kepada ku dan ke dua ibu bapak mu, hanya kepada ku lah kembalimu.” (QS: Al-Lukman: 14).
Ketiga, pendidikan moral.
يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِي
” Wahai anakku bila ada kebaikan yang kamu kerjakan, kecil (tidak nampak oleh pandangan mata yang zahir), yang kecil itu tersembunyi dipuncak langit, di dasar bumi yang paling dalam atau di tengah-tengah batu hitam sekalipun, Allah pasti akan mengetahuinya dan pasti akan memberikan balasan yang sedail-adilnya” (QS: Al-Lukman: 16). 
Keempat, tatanan hidup si anak
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
“Wahai anakku dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah” (QS: Al-Lukman: 17). 
Inilah dasar-dasar agama dalam mendidik anak yang harus diaplikasikan oleh setiap orangtua sebelum memberikan berbagai disiplin ilmu lainnya. Mantapkan aqidah, tanamkan rasa hormat kepada orangtua, ajarkan ahklak dan tingkah laku yang baik, kemudian berikan tatanan hidup yang sesuai dengan Islam.
Kalau metode pendidikan Lukmanul Hakim sudah menjadi prioritas orang-orangtua sekarang dalam mendidik anak, insya Allah anak-anak kita nantinya akan tumbuh sebagai remaja yang taat kepada Allah, patuh kepada orangtua, dan jauh dari tingkah laku yang tercela. Kita lihat saja.

 

Pendidikan Masa Kini Hanya Persiapkan Masyarakat Bekerja di Dunia Industri

Solo – Sistem pendidikan yang kita miliki dewasa ini rupanya tercipta pada masa industri, sehingga hanya mempersiapkan masyarakat untuk bekerja di dunia industri. Padahal dunia sekarang ini sedang menuju ke zaman kreatif atau zaman digital.
Hal ini diungkapkan Bukik Setiawan, penggagas Indonesia Bercerita dalam kelas ke-66 AkBer (Akademi Berbagi) Solo, “Pendidikan Digital” yang diadakan di Rumah Blogger Indonesia, Jumat (4/10) malam.
“Sekolah (masa kini) hanya dirancang untuk kebutuhan jaman industri,” terang Bukik.
Menurut Bukik, ada beberapa ciri dari sistem pendidikan yang dirancang hanya untuk kebutuhan industri, salah satunya adalah standarisasi di mana seluruh siswa diminta untuk belajar hal-hal yang sama dan tidak menyesuaiakan dengan bakat dan minat masing-masing individu.
Selain itu, lanjut Bukik, kecepatan belajar juga diseragamkan karena keterbatasan waktu, tanpa benar-benar memperdulikan apakah setiap pelajar menguasai materi. Dan juga adanya rasio perbandingan guru dan murid yang tidak seimbang di mana seorang guru mengajar begitu banyak murid. Keberhasilan dalam dunia pendidikan diukur dengan angka, bukan dari kemampuan menyelesaikan masalah.
Sistem pendidikan yang seperti ini, menurut mantan dosen psikologi tersebut sudah tidak sesuai lagi dengan zaman digital atau kreatif ini. Generasi yang lahir di zaman ini bisa dikatakan sebagai generasi digital. Bukik mencontohkan bahwa anak-anak kecil sekarang ini sudah terbiasa menggunakan benda-benda digital seperti smartphone dan komputer.
Oleh karena itu, saat ini menurut Bukik kita harus mulai menggunakan sistem pendidikan digital yaitu sistem pendidikan yang menggunakan teknologi digital untuk menghubungkan guru, anak, orangtua, dan masyarakat untuk berkolaborasi untuk belajar dan mengajar.
Dalam sistem pendidikan ini, anak-anak akan belajar sesuai dengan minat dan bakat mereka sertai sesuai dengan kecepatan mereka belajar sampai mereka menguasai materi yang diajarkan. Untuk itulah Bukik merancang Takita, sebuah media sosial yang dirancang khusus untuk anak berusia 6-12 tahun.
Dengan Takita, orangtua bisa mengenali kecerdasan sang anak, melatih dan memantau perkembangan pendidikan sang anak. Anak-anak juga akan dihubungkan dengan teman-teman lain yang memiliki bakat dan kecerdasan yang sama dalam lingkaran pertemanan supaya bisa saling mendorong dan menyemangati.
Anak nantinya bisa memilih beragam tantangan, melakukan aktivitas offline dan mengunggah foto atau video ke aplikasi Takita untuk menyelesaikan tantangan tersebut. Bukik mengatakan bahwa aplikasi Takita ini rencananya akan dirilis pada November mendatang.